Simfoni
hitamku telah beralun
Hitam.
Pekat, tak tahu arah
Bukan
bisikan atau ingatan
Berisikan
peluh…
Ketika
hasrat jiwa bertalu-talu
Mendengar
seribu bahasa surga
Hempasan
angin menghapusnya
Terlupakan
sejenak oleh sebuah sabda
Lukisan hati
telah terukir
Ketika
hati tak dapat lagi menafsir
Seribu
cahaya, seribu jiwa
Menjadi
satu dalam do’a
Semilir
angin tak bisa menjawab
Desir
pasir hanya menyibak
Bukan
luka, bukan juga surga
Tapi,
rangkaian kata telah terbingkai
Merajut
sebuah makna kata
Bahwa
hidup tak selamanya
Tanpa luka
dan tanpa catatan
Tersiar
sebuah suara cinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar