Entri Populer

Selasa, 01 November 2011

DIA ICE CREAM HATIKU

Sang raja matahari telah menampakan kehebatannya. Sesekali ku usap mata ini karena kilat cahaya yang begitu menusuk mata. Malas dan lelah seketika saja menghampiri. Tak kusangka waktu menunjukkan pukul tujuh kurang. Oh my god, aku telat. Teriakku dalam hati.
Lekas ku berlari memasuki kamar mandi yang berwarna warni di penuhi pernak-pernik ice cream kesukaanku. Tak salah kan jika aku begitu menyukai makanan yang satu ini? Tak hanya di kamar mandi, aku juga mengoleksi berbagai hiasan dari mulai jam dinding, tempat tidur, bingkai foto, sampai tabloid cara membuat ice cream pun tergeletak di kamarku.
Bukan hanya itu saja, aku juga sempat membeli buku tentang ice cream yang tebalnya tak kalah dengan buku HARRY POTTER ciptaan JK ROWLING. Bayangkan betapa hebatnya aku? Sampai sebegitunya.
Namaku Alicia Meyriska Ristiani. Panggil saja aku Icha atau boleh juga si cewek ice cream. Begitu biasa aku di panggil teman-temanku. Gadis berumur enam belas tahun yang masih mencari jati diri. Bayangkan saja diriku. Tinggi 158 cm dengan berat badan 45 kg. rambut berwarna coklat lurus tergerai sepinggang. Kulit putih dan mata berwarna coklat keemasan nan lebar.
Kebiasaanku menyukai ice cream aku mulai sejak usiaku tiga tahun. Pertama kali yang kurasakan adalah rasa coklat. Pertama kali memakannya saat aku bersama Ryan temanku sejak aku masih kecil. Tapi ia pergi begitu saja saat kami sedang menikmati masa-masa SMP. Pergi ke suatu tempat yang sangat jauh. Diriku sempat terguncang saat itu, menangis hanyalah hal yang tak beguna.
Di sekolah aku sering kali jadi bahan olokan teman-temanku, terutama cowok-cowok. Mereka sering memanggilku dengan sebutan cewek ice cream. Emang salah ya? Apanya yang perlu ku sesali. Terserah apa yang mereka katakan aku tak perduli.
“icha… kekantin yuk. Katanya ada anak baru loh di sekolah kita. Cowok. ganteng lagi.”ajak sahabatku yang bernama Rasya. Ya ampun dari dulu dia itu gak bisa liat cowok ganteng dikit. Walaupun dia centil, bawel, kadang nyebelin, suka nge gossip. Tapi aku sayang banget sama sahabat aku yang satu itu. Soalnya kadang aku di traktir ice cream dikedai deket kantin sekolah hehehe… sebenarnya aku gak begitu tertarik, tapi aku juga gak bisa tolak ajakan Rasya, apalagi dia janji mau mentraktirku ice cream.
Saat di kantin tak kulihat satu orang pun yang wajahnya asing bagiku. Mana? Mana cowok baru itu? Seperti apa ketampanannya sampai Rasya begitu antusias? Tiba-tiba saja… gubrakkkk aduhh,,….. gumamku dalam hati. Seperti bagaikan melihat malaikat yang penuh dengan cahaya dari atas rambut sampe ujung kaki. Tanpa sadar aku dengannya berdiam sambil bertatapan. Pupil mataku membesar, mataku melotot. Sepertinya aku baru melihat orang asing ini, apakah mungkin dia anak baru yang dimaksud oleh Rasya?
“maaf ya aku gak sengaja… kamu gak kenapa-kenapa kan?”tanyanya memecahkan lamunanku.
“ah ehh ehhmm gak kok gak papa.”padahal aku berbohong, sebenarnya sakit sekali.
“wah kamu anak baru itu ya?”tiba-tiba saja Rasya berbicara.
“iya, aku baru disini. Kenalin aku Arya.”ucapnya sambil mengulurkan jabatan tangannya. Tapi Rasya malah mendahului. Orang jelas-jelas dia ngajak aku kenalan duluan.
Perkenalan pun selesai. Kami lalui hari-hari di sekolah sewajarnya. Tapi seminggu kemudian ada yang aneh. Diam-diam Arya sering sms, telfon, atau bahkan mengajakku jalan. Aneh, darimana dia tahu nomer handphone ku? Ya sudah aku terima saja ajakannya. Ku lihat nada hp ku berbunyi, di layar tertera nama Arya yang mengirimkan sms untukku. Arya?
Eh cewek ice cream… keluar donk. Aku sekarang ada di depan rumah kamu. Cepetan keluar. What? Di depan rumah ku? Dari mana dia tahu alamat rumahku. Langsung saja aku keluar menemui Arya.
“kamu tau dari mana rumah aku?”
“itu gak penting, sekarang kamu ikut aku ya?”
“tapi kan aku belum ganti baju.”ucapku lagi. Dia tetap saja menarik tanganku. Membawaku ke suatu tempat. Kedai ice cream. Dari mana dia tahu aku suka ice cream?
“o iya kamu mau pesan ice cream rasa apa?” belum sempat ku jawab dia langsung memesan.
“rasa coklat kan?”
“ahh,,, eeh.. iaya iya aku suka rasa coklat.”jawabku bingung. Sambil menunggu pesanan datang dia mengajak ku mengobrol.
“oh iya… dari mana kamu tau nomer hp aku, alamat rumah aku, sampe… ice cream kesukaan aku?”tanyaku aneh.
“apa itu penting?”
“ya… gak papa juga si kalau kamu gak mau jawab.”ucapku lirih. Songong banget si nih anak. Belum sempat di jawab pesanan kami pun datang. Kami berbincang-bincang biasa, masalah hobi, silsilah keluarga, masa lalu. Ya… gi tu deh. Arya mengantarkan aku pulang ke rumah. Lambaian tangan menjadi perpisahan kami malam itu. Aku sempat tidak bisa tidur karna memikirkan yang baru saja terjadi malam ini. Terbesit dalam fikiranku untuk cerita dengan Rasya. Tapi, ini udah malam. Jadi kuputuskan besok saja aku cerita kalau malam ini aku jalan dengan Arya.
Esoknya aku cerita dengan Rasya, sontak ia pun kaget. Sempat ada perasaan iri dalam dirinya. Tapi itu tak ia pikirkan. Berhari-berhari, berbulan-bulan aku mengenal Arya. Sampai akhirnya ia menyatakan cintanya padaku. Aku tak bisa menolak, karena aku juga menyukainya sejak pandangan pertama. Apalagi dengan tingkah lakunya yang mirip sekali dengan Ryan. Huft.. dia jadi mengingatkanku pada sosok Ryan. Akhirnya kami pun jadian. Semua anak-anak di sekolah mengetahui kejadian itu, ya siapa lagi kalau bukan karna Rasya yang mulutnya ember.
Setelah beberapa bulan pacaran, keanehan mulai terjadi, sepertinya Arya semakin menghindar dariku. Aku mencoba mencari tahu. Aku berinisiatif mengikuti kemana ia pergi. Aku melihatnya sedang bersama sahabatnya. Berbicara di belakang halaman sekolah. Padahal kan ini masih jam pelajaran. Kenapa mereka malah mengobrol di luar kelas? Aku mendengarkan pembicaraan mereka.
“gimana? Gue udah buktiin kan ke elo kalau gue bisa dapetin si cewek ice cream itu. Awalnya si gue kira susah. Tapi ternyata semua itu gampang banget gue dapetin. Gue males tau taruhan sama lo. Apalagi harus ngerebutin tuh si cewek ice cream. Pikirannya cuma ice cream, ice cream, dan ice cream.”ujarnya membuat hatiku sakit.
Jadi selama ini, dia hanya menjadikanku bahan taruhan?
“yoi bro.. gue salut sama lo. Karna gue tau lo bisa menakhlukan hati cewek pakai cara apapun. Solanya selama ini, anak-anak cowok di sekolah ini tuh susah banget ngedapetin dia.”ucap sahabatnya itu lalu memberikan sebuah kunci mobil. Aku menangis dan berlari ke ruang kelas. Tak kusangka,  jadi kebaikannya selama ini hanya kebusukkannya. Cowok yang sudah mempermainkan hatiku. Rasya datang menemuiku.
“ya ampun Icha… lo kenapa? Sakit? Kok nangis sih? Ada apa? Ayo cerita sama gue. Kalau lo sakit, mendingan lo ijin ke UKS aja, dari pada lo ikut pelajaran dengan keadaan kayak gini”ucap Rasya yang khawatir melihat keadaanku.
“dia… dia jahat..”jawabku singkat dengan nada berbisik, takut guru yang mengajar mendengar obrolanku dengan Rasya.
“dia… dia siapa? Gue gak ngerti yang lo maksud. Sebenernya ada apa si cha? Siapa orang yang lo maksud itu?”tanyanya dengan nada tinggi. Tentu saja semua anak di kelas menengok ke arahku.
“ssttt… jangan keras-keras. Siapa lagi kalau bukan Arya? Lo tau gak, awalnya gue kira dia itu baik. Dia tulus suka sama gue. Pacarin gue. Tapi ternyata semua itu palsu. Dia cuma jadiin gue barang taruhan dia sama temennya itu. Gue gak nyangka. Awalnya juga gue kira di bener-bener mau ngedeketin gue karna dia tulus mau jadi temen gue, dia tahu nomer handphone gue, alamat rumah gue, sampe ice cream kesukaan gue.”jawabku panjang lebar.
“jadi… jadi dia sakitin lo? Di campakkin lo gitu aja?”Tanya Rasya yang seakan tak percaya apa yang sudah aku ceritakan.
“gue nyesel… gue nyesel tau gak. Awalnya gue kira dia bisa ngehilangin kenangan gue tentang Ryan. Tapi apa? Itu semua malah bikin gue jadi inget sama Ryan tau gak. Cuma dia satu-satunya cowok yang bikin gue bahagia.”curhatku.
ya, aku kangen banget sama kamu Ryan. Kenapa kamu tega ninggalin aku? Kenapa kamu lebih memutuskan pergi jauh dari aku. Tanpa pamit pula.
Tiba-tiba aku teringat kenangan-kenangan yang sudah aku rajut bersama Ryan. Makan ice cream di kala sinar matahari membakar kulit. Memelukku saat hujan turun. Menjagaku saat mama dan papa pergi tugas. Memberikanku rangkaian ice cream yang kau buat dengan susah payah. Tapi kenapa semua itu harus berakhir dengan perpisahan yang membuatku sakit Ryan. Apa yang sebenarnya terjadi hingga kamu memutuskan untuk pergi. Aku tersadar dari lamunanku saat Rasya menyadarkanku.
“ya udah lo sabar aja ya cha.. masih banyak kok cowok yang lebih baik dari dia.”Rasya benar.
Untuk apa aku menangisi hal yang tidak berguna. Hanya menghabiskan tenagaku saja. Saat jam pelajaran selesai, aku dan Rasya duduk di halaman belakang sekolah. Arya berjalan menghampiriku.
“o ea sayang… kita ke kantin yuk. Kita makan ice cream kesukaan kamu.”ajaknya. Sepertinya dia belum tahu kalau aku sudah mengetahui semua yang dia perbuat. Aku berfikir untuk mengerjainya. Aku mengajak Rasya sahabatku karna aku gak mau sendirian berbincang dengan cowok seperti dia. Saat sudah sampai di kedai ice cream milik Bu Siti kami memesan banyak ice cream. Seperti pesta ice cream saja saat-saat itu. Tapi Arya tidak tahu kalau aku memesan banyak ice cream untuk apa. Saat aku melihat Arya sedang menikmati ice cream itu, aku langsung saja bertindak. Ku hujani wajahnya dengan semua ice cream yang sudah ku pesan. Semua itu membuat anak-anak lain yang berlalu lalang di sekitarku menjadi heboh melihat apa yang sudah aku lakukan.
“ni… rasain tuh… ini buat lo karna lo dah permainin perasaan gue.”
ku tuangkan segelas ice cream rasa coklat.
“dan ini buat lo yang dah jadiin gue barang taruhan lo sama temen lo itu.”ku hujani wajahnya dengan ice cream yang ke dua. Betapa senangnya diriku tlah membuatnya malu.
“maksud lo apa pake gini segala? Gue gak ngerti. Kenapa lo tiba-tiba tumpahin ice cream lo di wajah gue. Eh, gue dah bayar mahal ya, buat semua ice cream lo yang lo pesen banyak. Mank belinya gak pake duit apa?”pekiknya pahit.
“ohh… jadi selama ini lo ajak gue jalan, lo traktir gue ice cream, ternyata lo itung-itungan sama cewek lo sendiri?, gak ihklas. Dasar matre lo… Cuma tampang aja keren. Tapi kantong lo seret. Kita putus,!!!! males gue pacaran sama cowok kaya lo”ku hujaninya juga dengan ejekan. Sontak semua orang yang ada di sekitar kantin pun tertawa dan mencibiri Arya. Aku mengajak Rasya pergi dari situ. Rasa puas terbesit di hatiku.
“gila lo keren banget… gue gak nyangka lo bisa seberani itu sama Arya. Lo emang sahabat gue paling Ok.”puji sahabatku itu. Beberapa hari kemudian, saat aku sedang mampir di kedai ice cream langgananku, aku melihat Rasya sedang berjalan mesra dengan seorang laki-laki. Mesra. Bergandengan tangan dengan manja. Oh god, arya? Rasya? Ngapain Rasya sama Arya? Aku mengikuti mereka dari belakang. Mereka duduk di bangku arah barat dari tempat dudukku. Aku menghampiri mereka.
“Rasya? Gue gak nyangka ya ternyata slama ini lo? Lo berkhianat?”tanyaku dengan nada tinggi.
“loh kenapa? Bukannya kita dah putus?”Tanya Arya dengan wajah brengseknya itu. Aku melihat wajah Rasya yang ketakutan.
“gue gak cemburu sama lo. Dan gue gak lagi ngomong sama lo.”
“cha… cha maafin gue… gue, gue gak bermaksud khianatin lo… tapi gue gak bisa nahan perasaan ini lagi cha… dari awal gue udah suka sama Arya. Tapi gue sadarin itu semenjak Arya mulai tertarik sama lo… gue kecewa. Kenapa selama ini cowok yang gue taksir tapi malah tertarik sama lo. Gue iri sama lo, kenapa lo bisa dapetin semua cowok yang lo suka dengan mudah, tapi gue? Gue sama sekali gak. Gue bantuin dia dapetin semua info tentang lo dari mulai nomer hp lo, alamat rumah lo, sampe kesukaan lo, karna gue sayang sama dia. Gue rela lakuin apapun asal dia bisa jatuh ke tangan gue. Dan gue gak perduli ternyata dia udah mempermainkan lo”jelas Rasya yang membuat hatiku menjerit.
“gue gak nyangka. Harusnya lo ngomong sama gue dari awal. Bukannya malah nusuk gue dari belakang. Persahabatan kita putus. Gue gak mau lagi punya sahabat kayak lo. Gue benci sama lo”aku berlari menghindar darinya. Meinggalkan sejuta pertanyaan yang belum keluar dari mulutku.
Matahari yang mulai tenggelam. Desir pasir dan ombak yang menggulung. Rambutku melambai-lambai mengikuti arah angin berhembus. Sinar matahari yang seakan mulai redup. Warna kuning cerah yang kini menjadi merahkeemasan seakan menghilang. Ku dengar seseorang memanggilku dari kejauhan. Suara itu mirip sekali dengan suara Ryan. Semakin jelas dan kian mendekat. Menepuk bahuku dan aku menoleh.
“Ryan…?” aku kaget melihat dirinya. Tlah lama tak bertemu membuatku canggung. Mengapa ia kembali setelah lama menghilang.
“hai ice cream hatiku… kamu apa kabar? Masih ingat kan sama aku.”senyum dan wajah cerianya tergambar saat sedang memandangku. Rupanya dia masih mengingat sebutan yang ia biasa ucapkan jika memanggilku. Ice Cream hatiku. Aku memeluknya erat-erat, apakah ini mimpi? Terbesit sejuta pertanyaan dalam fikiranku. Aku dan Ryan duduk melihat indahnya matahari yang kian menghilang di telan kegelapan. Tangannya menggenggam tanganku erat-erat. Tersenyum memandangi diriku.
“kenapa? Kenapa kamu pergi begitu lama dari hidup aku? Kenapa kamu ninggalin aku sendirian?”air mataku mengalir. Menghela napas sejenak.
“bukan tanpa alasan aku pergi. Tapi karena satu hal. Dan apakah kamu mau tahu?”tanyanya dengan perasaan sedih.
“apapun yang mau kamu bilang aku akan selalu dengerin.”
“aa… aaku aku sakit.” Kaget, diam, terharu, sakit, dan menyesal menggelayuti diriku. Apa yang di deritanya? Hingga ia harus pergi jauh dari diriku.
“sakit? Sakit apa? Rasa sakit apa yang kamu rasain hingga kamu putusin untuk pergi bertahun-tahun jauh dari aku?”
“apa kamu gak sayang sama aku? Kenapa kamu gak mau ngomong dari awal?”tanyaku lagi.
“kamu salah. Aku sayang banget sama kamu. Kamu belahan jiwa aku, kamu ice cream hati aku. Kamu segalanya buat aku. Aku takut kalau aku cerita sama kamu, kamu gak bisa menerima semuanya. Dan aku juga gak mau buat kamu cemas dan khawatirin aku.”jelasnya. air matanya meluncur dari pipinya. Ku usap air matanya yang telah membasahi pipinya. Lembut dan hangat.
“sakit hati aku.”ucapnya singkat. Diam. Aku terpaku. Bingung apa yang di maksudnya.
“hati kamu sakit.? Apa karna aku? Sebenarnya kenapa dengan hati kamu?”aku semakin penasaran.
“aku di diagnosa dokter terkena penyakit  kanker hati. Udah kronis. Akhirnya papa membawa aku ke rumah sakit di Australi buat cangkok hati. Kebetulan, disana ada orang yang donor hati. Aku juga gak tau siapa orang yang udah baik hati memberikan hatinya buat aku. Tapi untungnya semuanya berhasil. Dan aku menjalani beberapa perawatan yang melelahkan, hingga akhirnya aku bisa balik lagi ke sini, dan sekarang aku bisa melihat ice cream hatiku yang dulu pernah aku tinggalin begitu lama di hadapan aku.”jelasnya yang membuatku tak percaya. Tak kusangka slama ini, dia memiliki sebuah rahasia yang tak terbayangkan olehku.
“maafin aku ya, karena aku gak pernah kasih kabar ke kamu, karna aku gak mau kamu nantinya semakin menghindar dari aku.”
“kenapa? Kenapa aku harus menghindar? Apa yang perlu aku hindarin?”
“karna hati aku, hati aku bukan hati yang dulu ada buat kamu, menyimpan wajah kamu, memiliki perasaan untuk kamu, dan bukan hati seorang Ryan yang dulu.”tegasnya.
“aku gak peduli, aku gak peduli itu bukan hati kamu atau hati siapapun. Yang aku tahu dan aku mau, kamu tetap Ryan yang dulu,. Yang selalu ada buat aku. Ice cream hati aku.”aku memeluknya. Erat dan hangat. Menghangatkan aku dari dinginnya suasana pantai.
Ryan… sampai kapanpun tetaplah di hati aku. Jangan pernah pergi dari hidup aku.
Akan kusimpan hati kamu yang dulu di hati aku, dan kita jalani hidup ini dengan hati kamu yang berdetak. Ice cream hatiku, slalu untukku. Selamanya.



Carin Rianaditya Ajeng Putri
Kelas 8 SMP 2 Tegal
Tegal Jawa Tengah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar