Entri Populer

Selasa, 01 November 2011

Oh Ya_SMASH

sumpah mati padamu ku jatuh hati
sumpah mati padamu ku jatuh cinta
namun sayang ku tak sempat berkenalan denganmu
dari hati ke hati lalu bicara cinta berdua...berdua

sampai kini daku masih trus harapkan
agar suatu saat ku berjumpa lagi
semoga saja daku sempat berkenalan denganmu
dari hati ke hati lalu bicara cinta berdua

reff:
ingin ku mengejar seribu bayangmu
namun apa daya tangan tak sampai
memang benar apa kata pepatah
kalau jodoh tak lari kemana
duhai kekasihku

sumpah mati padamu ku jatuh hati
sumpah mati pedamu ku jatuh cinta
semoga saja daku sempat berkenalan denganmu
dari hati ke hati lalu bicara cinta berdua

back to reff

Rapp:
oh come on
seandainya waktu bisa
putar kembali kisah
kita akan berbeda seperti kata mereka
melayanglah peluang kesempatan terbuang
kini hanya rasa rinduku yang bisa tertuang
lewat lagu ini
lewat syair ini
keraguanku buat diriku jadi begini
tak inginku ku lupa
dan ingin ku bilang rasa cintaku padanya
tak akan pernah hilang

reff:
ingin ku mengejar seribu bayangmu
namun apa daya tangan tak sampai
memang benar apa kata pepatah
kalau jodoh tak lari kemana
duhai kekasihku 2x

oh kekasihku...duhai kekasihku 2x

U SMILE_JUSTIB BIEBER

Oh
Yeah
Mmmm
I’d wait on you forever and a day
Hand and foot
Your world is my world
Yeah
Ain’t no way you’re ever gon’ get
Any less than you should
Cause baby
You smile I smile (oh)
Cause whenever
You smile I smile
Hey hey hey
Your lips, my biggest weakness
Shouldn’t have let you know
I’m always gonna do what they say (hey)
If you need me
I’ll come running
From a thousand miles away
When you smile I smile (oh whoa)
You smile I smile
Hey
Baby take my open heart and all it offers
Cause this is as unconditional as it’ll ever get
You ain’t seen nothing yet
I won’t ever hesitate to give you more
Cause baby (hey)
You smile I smile (whoa)
You smile I smile
Hey hey hey
You smile I smile
I smile I smile I smile
You smile I smile
Make me smile baby
Baby you won’t ever work for nothing
You are my ins and my means now
With you there’s no in between
I’m all in
Cause my cards are on the table
And I’m willing and I’m able
But I fold to your wish
Cause it’s my command
Hey hey hey
You smile I smile (whoa)
You smile I smile
Hey hey hey
You smile I smile
I smile I smile I smile
You smile I smile
Oh
You smile I smile
You smile I smile




YOU'VE GOT THE WAY

You've got a way with me
Somehow you got me to believe
In everything that I could be
I've gotta say--you really got a way

You've got a way it seems
You gave me faith to find my dreams
You'll never know just what that means
Can't you see... you got a way with me

CHORUS:
It's in the way you want me
It's in the way you hold me
The way you show me just what Iove's made of
It's in the way we make love


You've got a way with words
You get me smiling even when it hurts
There's no way to measure what your love is worth
I can't believe the way you get through to me
(CHORUS)
BRIDGE:

Oh, how I adore you
Like no one before you
I love you just the way you are
(CHORUS)
It's just the way you are

Diary Untuk Shabat

Sahabat kau belahan jiwaku…
Kau bagaikan anugrah yang telah Tuhan ciptakan untukku
Orang bilang tak ada orang yang paling indah selain ibu,
Tapi bagiku kau adalah segalanya.
Kau adalah keindahan dari setiap senyumanmu

Manakala hati ini menjerit jika kau pergi
Manakala cinta kasih sepasang sahabat tak mampu lagi berkobar
Kadangkala kau temani kesepian hati
Dan berpeluhkan air mata…

Andira, kamu sahabat terbaikku. Aku yakin kau yang terakhir. Hanya kamu yang bisa mengerti aku. Karena kamu sahabat terbaikku, maka aku akan selalu menyayangimu. Memberikan pundakku ini jika kau bersedih. Tangan ini akan mengusapkan air mata yang mengalir dari mata hatimu. Hati ini akan selalu ada jika kau merasakan kesepian. Aku dan kamu selalu bersama, apapun yang terjadi. Best friends forever.
Aku memberikan sepucuk surat berwarna pink kesukaannya. Aku berlari menghampirinya. Memeluk dirinya penuh kasih sayang.
“ini ku persembahkan untukmu Andira, sahabatku yang palingggggg aku sayang.”ujarku sambil memberikan sepucuk surat manis yang berisikan puisi yang sudah aku buat semalaman.
“ini untukku? Apa isinya? Terimakasih ya…” dia membuka sepucuk surat yang ku berikan khusus untuknya. Aku melihat rona bahagia dalam dirinya. Wajahnya langsung memerah. Kecerahan hati saat dia membaca puisiku itu. Dia langsung memelukku erat.
“terimakasih Disa sahabatku. Puisi ini indahhh sekali. Aku suka. Kamu memang sahabatku yang paling baik. Aku menyayangimu. Sampai kapanpun kau akan selalu ada di hatiku. Sahabatku jangan pernah pergi dari ku ya…” dia memelukku begitu kencang, dan tanpa terasa air mata sudah membasahi pundakku. Aku mengusap punggungnya. Mencoba menenangkan dirinya.
Aku bersahabat dengannya sejak aku masih kecil. Ayah ku dengan ayahnya adalah teman bisnis baik. Bekerjasama saling melindungi perusahaan yang sudah ayahku dan ayahnya bangun dengan susah payah. Itulah yang menyebabkan kami menjadi begitu dekat. Walaupun kepribadian kami yang sangat berbeda tapi kami mampu untuk menjaga sebuah tali persahabatan dan persaudaraan. Tapi itu bukan masalah buat kami menjalin suatu hubungan persahabatan yang sangat erat dan tidak dapat terpisahkan. Dari berbagai perbedaan yang kami milikki, kami juga mempunyai banyak sekali kesamaan.
Dia dan aku sama-sama suka makan ice cream, suka nonton HARRY POTTER, mengidolakan bintang-bintang korea, suka shopping, chatting, dan yang tak kalah menarik suka kentut sembarangan. Itulah yang menjadi salah satu keeratan hubungan persahabatan kami.
Tapi disekolah kami bersaing sebagai pelajar. Bersaing secara sehat tentunya. Andira merupakan bintang di sekolah. Ia terkenal dengan kepandaiannya, kelembutannya, dan bentuk demokrasinya yang kini membuatnya terpilih menjadi ketua OSIS. Selain itu, dia juga anak yang mudah bergaul, laki-laki disekolah banyak yang menginginkannya menjadi kekasih hatinya. Namun sayang, Andira lebih memilih untuk focus pada sekolahnya. Ya… itulah yang aku suka darinya. Berfikir dewasa.
Berbeda denganku. Aku anaknya agak tomboy, sedangkan Andira sangat feminine dan anggun. Basket adalah olahraga yang paling aku sukai. Makan banyak tentu saja tetap membuat tubuhku tinggi dan langsing. Tapi aneh, walaupun aku agak tomboy. Sebenarnya kalau aku di dandani dan pergi ke salon sesering mungkin, tentu saja aku tak kalah cantik dengan sahabatku. Aku pernah merayakan ulang tahun yang ke tujuh belas dengan memakai gaun berwarna pink yang di dandani oleh Andira. Aku sampai terpukau melihat wajahku sendiri. Face? Ok. Rambut? Ok. Panjang, lurus dengan ikal di ujung. Mata? Ok juga. Hehehe narsis juga ya aku ini…
“Andira… kamu mau tidak menemaniku pergi ke caffe denganku sepulang sekolah nanti?”ucapku saat melihat Andira sedang asyik membaca buku di perpustakaan. Aku tak yakin kalau dia mau menerima ajakanku. Secara gitu ya, kalau udah pegang buku sedikit dia pasti tidak mau untuk menutup dan menyudahi bacaannya. Huft. Padahal kan, ini perayaan kemenangan tim basketku. sayang sekali jika dia tidak bisa hadir.
“maaf Disa aku tidak bisa. Aku sedang sibuk hari ini. Aku harus mengerjakan tugas OSIS yang sudah harus ku selesaikan. Apalagi besok sudah harus di berikan ke kepala sekolah. Kamu gak papa kan kalau pergi sendiri? Sebenarnya aku ingin ikut, tapi…. Mau bagaimana lagi?” kasihan sahabatku itu, semenjak jadi ketua OSIS dia menjadi jarang bertemu denganku, jarang banget lahhh kumpul di rumah. Nonton film HARRY POTTER bareng…. Aku rindu sekali dengannya. Tapi aku juga harus mengerti posisinya. Sebagai sahabat itu mungkin hal yang terbaik.
“ehhmmm…. Ya sudah tidak apa. Aku mengerti, kau pasti sibuk sekali. Tapi tenang sahabatku, kau harus tetap kuat. Jangan nyerah ya…. Hehehe…”aku menyemangati dirinya agar ia tak begitu terbebani dengan semua tugas itu.
“kamu nanti pulang sekolah bareng sama aku kan?”tanyaku saat sedang melihat ia sibuk mencari bahan-bahan tugas OSIS nya.
“sepertinya aku tidak bisa. Aku sudah janji dengan anak-anak OSIS lainnya untuk mencari bahan-bahan tugas di perpustakaan daerah dan mungkin kami semua akan terjun ke lapangan langsung.”jelasnya. dia hebat, mencari tugas saja sampai harus cari ke tempat kejadian juga. Udah kaya pemburu berita saja.
“ya udah gak apa. Aku pergi kekantin dulu ya. Laper nih… kamu mau titip gak?”tanyaku mencoba menawarinya sesuatu. Tapi dia menolak. Ya sudah. Aku lekas berlari kekantin yang tak jauh dari ruang perpustakaan.
Siangnya saat aku sedang nongkrong di caffe sama temen-temen basket.
Bercanda ria bersama, tertawa. Kadang juga serius mempersiapkan strategi jitu untuk lomba basket di tingkat internasional nanti. Aku adalah kapten basketnya. Tim basketku sudah banyak sekali mendapatkan kejuaraan. Dari mulai piala POPDA, walikota, nasional, antar sekolah, sampai ke tingkat Internasional. Tak salahkan jika aku layak mendapatkan troppy penghargaan sebagai kapten basket terbaik. Dari mulai medali perak, emas, perunggu. Wuihhh banyak juga ya…
Saat sedang asyik mengobrol, aku melihat ada seorang laki-laki yang sepertinya aku kenal. Dia adalah teman kecil aku dan Andira saat kami masih SD. Dia adalah Erland. Jadi teringat saat SD aku dan Andira bersaing demi mendapatkannya. Pantas bukan, dari kecil cakeppppp banget. Tinggi, hitam manis. Ada lesung pipinya, baik, ramah pula. Jadi kami bertiga bagai tiga serangkai yang sangat di kagumi teman-teman sekelas kami.
“Erland…”aku berteriak memanggilnya. Dia menoleh ke arahku. Berjalan menghampiriku. Gila…. Gak masih kecil, udah gede makin cakep aja. Tapi sekarang makin putih.
“haiii… Disa. Kamu apa kabar?”tanyanya.
“baik, baik. Kamu sendiri gimana? Kemana aja slama ini? Kok jarang keliatan. Udah gitu pake ganti nomer handphone gak bilang-bilang aku sama Andira lagi.”tanyaku saat menanyakan kemana saja ia slama ini.
“maaf. Aku ganti nomer. Soalnya, selama ini aku tinggal di Belanda. Sibuk sama tugas sekolah. Jadi gak sempet kasih kabar. Oh iya… Andira mana? Gak ikut ngumpul?”tanyanya. mungkin ia rindu pada Andira. Cinta monyetnya pada saat kami masih kecil. Ya, cintaku bertepuk sebelah tangan dengannya. Karena Erland lebih menyukai Andira ketimbang aku.
“ohh itu, biasa dia sibuk sama tugas sekolahnya. Jadi gak bisa ikutan. Oh iya… kamu di sini lagi ngapain? Baru pulang ya?” aku mengalihkan pembicaraannya tentang Andira yang membuat hatiku terbakar api cemburu yang lama tak kurasa lagi.
“iya… kebetulan ayahku udah selesai ngurusin bisnisnya di sana. Jadi kami memutuskan untuk pulang ke sini. Ternyata sekolah di negeri orang gak enak. Aku rasa lebih enak di negeri sendiri.”jelasnya. aku kagum dengannya, dia juga tak kalah pintar dengan Andira. Duhhh… kenapa sih aku malah menyamakannya dengan Andira? Perbincangan kami tak hanya sampai di situ. Dia memintaku untuk dipertemukan dengan Andira. Apa boleh buat. Andira juga perlu tahu akan hal ini.
Saat sampai di rumah Andira. Andira begitu antusias melihat kedatangan Erland, cinta lamanya. Mereka berpelukan di depanku. Tentu saja membuatku bagai kebakaran jenggot. Tapi tak apalah, toh mereka juga sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Selain itu juga mereka pasti saling rindu. Kami mengobrol seputar masalah-masalah kami, apa saja yang kami lakukan slama ini. Penuh tawa dan keceriaan. Sampai larut malam memisahkan.
Esoknya aku dan Andira sudah sampai di gerbang sekolah. Kami berpapasan di sana.. Saat memasuki gerbang sekolah, aku melihat Erland keluar dari mobilnya. Berjalan ke arah kami.
“hai semua…. Selamat pagi.” Sapanya.
“haiii…pagi. Kamu masuk sekolah ini?”tanyaku setelah menjawab sapaannya.
“iya… kalian pasti kaget. Kalian juga pasti seneng kan aku bisa satu sekolah sama kalian,? secara aku ini kan orang yang selalu bikin jantung kalian berdegup kencang.”ujarnya sambil menunjukkan rasa PDnya itu. Dari dulu dia itu anaknya suka ke PDan sendiri, juga narsisnya gak pernah di ilangin.
“ehhmmm… ia-ia percaya. Ya udah masuk yuk, keburu bel nih.”ajak Andira.
Saat jam istirahat aku melihat Erland sedang mendekati Andira berjalan menuju ruang kepala sekolah.
“haiii… kamu mau kemana?”Tanya Erland penuh perhatian.
“erland… kamu ini bikin kaget aja tau gak. Aku mau keruang kepala sekolah. Nih, mau ngumpulin tugas OSIS aku.”jelas Andira sambil berlalu masuk keruang kepala sekolah. Ku lihat Erland begitu lama menunggu Andira yang sedang ada urusan dengan pak kepsek. Aku langsung saja menghampirinya. Pura-pura tidak tahu apa yang dilakukannya.
“haiii… ngapain kamu disini? Kaya orang aneh tau gak. Berdiri di depan pintu sendirian. Nungguin siapa?” aku menepuk bahunya, mengagetkannya.
“ah kamu ini. Bikin aku kaget tau gak. Udah sport jantung nih, kalau patah gimana. Dasar.”jawabnya sambil menjitak kepalaku.
“auuu… sakit tau. Kenapa sih kamu selalu jitak kepala aku? Bisa bego tau gak.”pekik ku merasa kesakitan sambil mengelus-elus kepalaku.
“ya salahmu sendiri, makannya jangan suka ngagetin orang. Aku lagi nungguin Andira ngasih tugas OSISnya ke kepala sekolah. Kamu sendiri ngapain disini? Ohhh atau jangan-jangan kamu ngikutin aku sama Andira ya?”tanyanya sambil menunjuk-nukjukkan jarinya kearah mukaku penuh selidik.
“ehh PD banget sih kamu…. Siapa juga yang ngikutin kamu. Aku tadi kebetulan aja lewat.”jawabku bohong sambil mencari-cari ide. Ternyata dia bisa tau juga. Saat kami sedang ribut sendiri di luar ruangan, Andira keluar.
“ehhh… kalian ngapain sih ribut sendiri di sini.? Dari dalem tuh kedengeran tau. Aku ampe di marahin sama pak kepsek.”ujar Andira memarahi aku dan Erland. Erland tetap saja terus-terusan memarahiku. Aku tak terima. Aku menantangnya duel basket di lapangan. Dia menerima tawaranku. Sebenarnya aku tak yakin dengan keputusanku sendiri. Soalnya, walaupun aku jago main basket, jadi kapten basket sampe dapet troppy penghargaan sebagai kapten basket terbaik, aku pernah di kalahkannya sewaktu masih kecil dulu. Berulang kali malah. Tapi aku yakin kali ini, aku bisa mengalahkannya. Citraku sebagai kapten basket terbaik tak boleh begitu saja tercemar karena di kalahkan oleh si curut yang satu ini.
Pertandinganpun di mulai. Penonton menyorakiku sambil memberi semangat untukku. Namun sebagian malah mendukung Erland. Ya tentu saja, pasti karna tampangnya itu. Skor kami kejar-kejaran. Dan akhirnya…. Tentu saja aku yang menang. Hahaha… aku bersyukur setelah sekian lama ia sering mengalahkanku, bisa juga aku mengalahkannya. Membalaskan dendam yang belum sempat terbalaskan. Makan di caffe menjadi perayaan kemenanganku. Di caffe kami biasa berkumpul.
“iya-iya…. aku percaya kemampuan kamu lebih hebat dari aku sekarang. Karna kamu menang, kamu bebas pesen makanan apa aja sepuasnya. Aku yang bayar.”ujarnya memulai pembicaraan. wahhh… makan banyak…. Ahai…. Udah keroncongan perutku sedari tadi menunggu pesanan datang.
Gila… tau gak? Aku tuh udah kayak kambing congek, kudu ngeliatin mereka saling pandang lah, bertukar pikiran lah, tebar-tebar senyum. Sok manis, ngobrol berdua mulu.
Selesai makan, kami pun berpisah. Pulang sendiri-sendiri. Karna rumah kami yang cukup berjauhan dan beda arah pula.
Kami melalui hari dengan indah. Nongkrong-nongkrong, belajar bareng, main basket. Pokonya seru deh. Sebelum akhirnya, masalah datang pada kami terjadi.
“ehmmm… sa, aku mau kasih tau kamu sesuatu. Tapi… tapi kamu jangan marah sama aku ya.”ucapnya memulai pembicaraan saat kami sedang duduk di perpustakaan. Tentu saja Andira baca buku, sedangkan aku chattingan. Kulihat gaya bicaranya yang seolah ketakutan.
“emangnya kamu mau kasih tau apa? Udah ngomong aja. Kenapa musti marah sih sahabatku…”jawabku yang masih terpaku pada layar monitor.
“a… aaaku diajak jalan sama Erland.”ceritanya. dengan nada suara yang lirih, mungkin takut jika aku marah, tentu saja!
“apa? Jalan? Kalian? Berdua? Gak salah? Aku? Gak diajak? Berarti… kalian kencan?.” Aku terkesibak mendengar penjelasannya. Terkejut, marah, kesal, dan tentu saja cemburu. Seakan menggelayuti perasanku. Aku menatap tajam matanya dengan sorotan mataku yang seakan menusuk. Tak terima! Tapi luluh. Teringat dia adalah sahabatku. Aku rela, dan mengijinkannya meski hatiku harus menahan sakit. Ku lihat ia hanya mengangguk-angguk dan tak ada jawaban sedikitpun keluar dari bibir mungilnya. Aku beranjak pergi dari hadapannya. Mencoba menenangkan diri. Mencari suasana yang bisa menghibur hatiku. Di taman belakang sekolah. Menangis, teringat akan Andira sahabatku itu. Tak kuasa aku menyakitinya. Tak kuasa untuk menghancurkan perasaannya. Perasaan seorang sahabat, bisa aku mengerti seperti apa. Aku mengerti ia juga mempunyai perasaan yang sama dengan Erland. Tetapi itu juga yang terjadi dengan perasaanku. Perasaan yang apakah mungkin bisa terungkap. Perasaan yang dulu pernah bertepuk sebelah tangan.
“Andira… andaikan saja kamu tahu. Sejujurnya dalam hati aku terasa sakit. Sakitttt sekali. Bagaikan tertusuk beribu-ribu jarum. Menyayat. Menggores. Tapi aku juga tidak ingin kau  merasakan seperti apa yang aku rasakan saat ini. Detik ini. Karena aku terlalu menyayangimu. Aku tak ingin menyakiti hatimu. Aku tak ingin kau mengetahui yang sejujurnya. Bahwa aku juga memiliki perasaan itu. Aku sangat menyayangi Erland, bahkan sejak kami pertama bertemu saat kecil. Tapi aku juga tahu, dia lebih tertarik denganmu. Aku rela… asalkan kau bahagia Andira.” Pikirku dalam hati yang kutulis pada diary yang selalu setia bila ku tulis semua isi hatiku. Diary pemberian dari Andira. Hingga akhirnya aku tersentak dengan seseorang yang sangat membuatku terkejut. Erland. Apakah dia? Aku menoleh. Benar itu dia, mata itu. Kini ia duduk di sampingku. Ku seka air mata ini agar ia tak tahu apa yang sudah terjadi. Tapi, tetap saja. Ia selalu mengerti apa yang aku sembunyikan.
“kamu nangis? Kenapa? Siapa yang buat kamu jadi seperti ini?”tanyanya penuh perhatian. Apakah harus aku jujur? Tidak! Aku tak ingin dia dan Andira tau. Aku tak ingin membuat mereka begitu memikirkanku.
“ah… enggak. Siapa juga yang nangis? Cengeng banget… ini tuh air mata aku karna kelamaan duduk di sini. Malah udaranya lagi gak enak. Anginnya kenceng banget debunya jadi masuk mata deh.”maafkan aku Erland, karna aku berbohong. aku hanya tak ingin terlihat begitu lemah di matamu. Aku ingin seperti Andira, yang selalu kuat dan tegar. Selalu bisa dan banyak cara untuk menyembunyikan kesedihannya.
“ohhh… eh tau gak aku baru beli CD HARRY POTTER. Kalau ada waktu kita bertiga nonton bareng yuk, di rumah kamu. Nih kamu simpan yahh”ujarnya sambil menyodorkan CD HARRY POTTER kesukaanku dengan Andira.
“ia… boleh-boleh aja kok.” Aku tersenyum dengannya. Mungkin ini adalah hariku bersamanya dan hanya berdua yang menjadi terakhir kalinya. Setelah ia memutuskan untuk menyatakan cintanya pada Andira. Sungguh, aku tak akan menyia-nyiakan hari itu.
Malam dimana Andira dan Erland berkencan. Terbayang dalam fikiranku seperti apa konsep yang sudah di buat oleh Erland untuk Andira. Karna aku tahu, dari dulu Erland suka sekali membuat kejutan. Kejutan terindah yang pernah di berikannya untukku dulu sebelum kami berpisah yang tanpa aku tahu. Kalung liontin yang didalamnya tertempel fotoku dengan fotonya. Kalung liontin berbentuk hati yang sampai sekarang masih tetap saja terikat kuat di leherku. Yang ku jaga sampai masa SMA ini.
Di rumah aku tidak bisa focus dengan buku pelajaran yang terbentang lebar di depanku. Aku begitu memikirkan Andira dan Erland. Sedang apa meraka? Apa yang mereka buat? Pasti sangat romantic. Terlintas di benakku raut muka Andira yang penuh rona bahagia. Akhirnya kuputuskan untuk menyusul meraka. Di restaurant yang mereka pesan. Aku tahu tempat itu saat sebelum Andira pergi memberitahuku lewat pesan singkatnya.
Bergegas sampai di sana. Aku melihat mereka berdua bergenggaman tangan. Saling bertatapan. Terpajang besar dan tinggi sekali gambar hati yang di kelilingi bunga-bunga yang didalamnya tertuliskan nama mereka berdua.
Kudengar kata-kata yang langsung membuatku terkejut. Dadaku ini terasa sesak. Sulit untuk bernafas.
“Andira… kamu tahu kan dari kecil aku udah tertarik sama kamu. Dulu kita sempet pacaran. Walaupun hanya pacar boongan, cinta monyet. Cintanya anak yang baru sebiji jagung. Tapi kini perasaan itu berbeda. Kini perasaan itu sungguh-sungguh, bukan permainan, bukan juga cinta anak kecil. Aku sangat mencintaimu. Aku harap kamu mau menerima cintaku ini.”ujarnya memberikan kata-kata romantic lalu mengecup telapak tangan kanan Andira.
“aku juga cinta sama kamu. Tapi bagaimana dengan Disa?”ujarnya.
Apa? Aku? Kenapa Andira begitu memikirkan perasaanku?
“memangnya kenapa dengannya?” Erland terlihat bingung dengan Andira yang melibatkan aku dalam makan malam romantic mereka.
“aku takut Disa tau. Aku sangat mengerti perasaanya. Semenjak kamu pergi begitu lama, aku dan dia sangat kehilangan kamu. Tapi yang begitu terpukul Disa. Disa sangat mencintai kamu. Aku tak bisa bayangkan, apa jadinya kalau Disa tau kita berdua saling mencintai. Aku tak ingin membuat hatinya kecewa. Karna dia harus rela cintanya bertepuk sebelah tangan untuk yang kedua kalinya. Aku gak bisa Erland. Biarkan saja perasaan ini aku yang menyimpan. Aku tak ingin persahabatan aku dengan Disa putus dan hancur begitu saja hanya karna seorang lelaki. Aku tahu dia pasti akan sangat terpukul. Tapi aku harap kamu bisa ngerti apa yang menjadi keputusan aku. kalau kamu emang mencintai aku, maka relakan aku Erland.”jelasnya yang tentu saja membuat Erland menjadi lemah. Andira meneteskan air mata.
“tapi… tapi aku sayang sama kamu. Dari dulu aku gak punya perasaan apa-apa sama Disa. Aku Cuma sayang sama kamu. Aku hanya menganggapnya sebagai adikku. Itu saja. Gak lebih, dan gak akan bisa lebih.”Erland telah memutuskan untuk tetap memantapkan hatinya pada Andira.
“tapi cinta tak harus memiliki Erland.”Andira berlari meninggalkan Erland begitu saja. Dan menabrakku.
“Disa?”tanyanya yang kaget melihatku. Aku tetap saja berlari. Air mataku sudah tak tertahankan. Aku berlari di atas jalanan besar. Tanpa kusadar ada sebuah mobil menbrakku. Dan… gubrak. Aku terpental. Erland dan Andira berlari menyelamatkanku. Aku mendengar Andira yang terus-terusan memanggil namaku. Ku lihat air matanya yang menetes ke pipiku. Samar-samar terdengar suara sirine ambulance yang melaju kencang. Di rumah sakit.Suara alat rumah sakit yang berdenyit. Selang-selang yang terus dililitkan oleh dokter ke hidungku. Ku merasakan kepala yang begitu sakit. Kurasakan sekujur tubuhku basah. Darah. Dorongan kasur yang memasuki ruang ICU. Sampai akhirnya dokter berkali-kali memberiku alat pemacu jantung. Tetap saja aku tak bisa dan aku tak mampu lagi. Terdengar suara denyit panjang. Ngingggggggg.. garis lurus berwarna hijau. Sebelum akhirnya untuk terakhir kalinya ku lihat wajah Andira yang menangis tanpa henti, Erland yang memeluk tubuh Andira mencoba untuk menenangkannya. Mamah dan papah.
Kosong. Kulihat tubuhku terbaring di sana. Andira yang terus saja tidak bisa merelakan kepergianku. Apakah itu artinya? Aku sudah mati. Wajahku tertutup kain putih.
Sebuah peristirahatan terakhir yang dingin dan gelap. Nisan bertuliskan namaku yang berkali-kali Andira kecup. Mereka beranjak dari tempat peristirahatan terakhirku. Namun tidak untuk Andira. Aku ingin memeluknya. Tapi aku tidak bisa.
Mamah memberikan diary yang dulu pernah diberikan oleh Andira untukku. Andira membacanya di kamar tidurku. Lembaran pertama sampai lembaran berikutnya sambil sesekali menyeka air matanya.
Andira… kau sahabatku… dia pilihan hatiku.
Sakitttttt sekali, begitu mendengar semua pernyataan darimu.
Maafkan aku, karna aku hanya selembar kertas yang tersobek karna luka
Aku sangat menyayanginya. Tapi aku tahu dia hanya untukmu. Makanya ku relakan dia untukmu. Untuk apa tetap ku pertahankan rasa yang tak ada artinya, rasa yang tak terbalaskan.
Semoga pengorbananku ini membuatmu bahagia. Jangan penah melupakan aku, sahabatmu
Selamanya…  



DIA ICE CREAM HATIKU

Sang raja matahari telah menampakan kehebatannya. Sesekali ku usap mata ini karena kilat cahaya yang begitu menusuk mata. Malas dan lelah seketika saja menghampiri. Tak kusangka waktu menunjukkan pukul tujuh kurang. Oh my god, aku telat. Teriakku dalam hati.
Lekas ku berlari memasuki kamar mandi yang berwarna warni di penuhi pernak-pernik ice cream kesukaanku. Tak salah kan jika aku begitu menyukai makanan yang satu ini? Tak hanya di kamar mandi, aku juga mengoleksi berbagai hiasan dari mulai jam dinding, tempat tidur, bingkai foto, sampai tabloid cara membuat ice cream pun tergeletak di kamarku.
Bukan hanya itu saja, aku juga sempat membeli buku tentang ice cream yang tebalnya tak kalah dengan buku HARRY POTTER ciptaan JK ROWLING. Bayangkan betapa hebatnya aku? Sampai sebegitunya.
Namaku Alicia Meyriska Ristiani. Panggil saja aku Icha atau boleh juga si cewek ice cream. Begitu biasa aku di panggil teman-temanku. Gadis berumur enam belas tahun yang masih mencari jati diri. Bayangkan saja diriku. Tinggi 158 cm dengan berat badan 45 kg. rambut berwarna coklat lurus tergerai sepinggang. Kulit putih dan mata berwarna coklat keemasan nan lebar.
Kebiasaanku menyukai ice cream aku mulai sejak usiaku tiga tahun. Pertama kali yang kurasakan adalah rasa coklat. Pertama kali memakannya saat aku bersama Ryan temanku sejak aku masih kecil. Tapi ia pergi begitu saja saat kami sedang menikmati masa-masa SMP. Pergi ke suatu tempat yang sangat jauh. Diriku sempat terguncang saat itu, menangis hanyalah hal yang tak beguna.
Di sekolah aku sering kali jadi bahan olokan teman-temanku, terutama cowok-cowok. Mereka sering memanggilku dengan sebutan cewek ice cream. Emang salah ya? Apanya yang perlu ku sesali. Terserah apa yang mereka katakan aku tak perduli.
“icha… kekantin yuk. Katanya ada anak baru loh di sekolah kita. Cowok. ganteng lagi.”ajak sahabatku yang bernama Rasya. Ya ampun dari dulu dia itu gak bisa liat cowok ganteng dikit. Walaupun dia centil, bawel, kadang nyebelin, suka nge gossip. Tapi aku sayang banget sama sahabat aku yang satu itu. Soalnya kadang aku di traktir ice cream dikedai deket kantin sekolah hehehe… sebenarnya aku gak begitu tertarik, tapi aku juga gak bisa tolak ajakan Rasya, apalagi dia janji mau mentraktirku ice cream.
Saat di kantin tak kulihat satu orang pun yang wajahnya asing bagiku. Mana? Mana cowok baru itu? Seperti apa ketampanannya sampai Rasya begitu antusias? Tiba-tiba saja… gubrakkkk aduhh,,….. gumamku dalam hati. Seperti bagaikan melihat malaikat yang penuh dengan cahaya dari atas rambut sampe ujung kaki. Tanpa sadar aku dengannya berdiam sambil bertatapan. Pupil mataku membesar, mataku melotot. Sepertinya aku baru melihat orang asing ini, apakah mungkin dia anak baru yang dimaksud oleh Rasya?
“maaf ya aku gak sengaja… kamu gak kenapa-kenapa kan?”tanyanya memecahkan lamunanku.
“ah ehh ehhmm gak kok gak papa.”padahal aku berbohong, sebenarnya sakit sekali.
“wah kamu anak baru itu ya?”tiba-tiba saja Rasya berbicara.
“iya, aku baru disini. Kenalin aku Arya.”ucapnya sambil mengulurkan jabatan tangannya. Tapi Rasya malah mendahului. Orang jelas-jelas dia ngajak aku kenalan duluan.
Perkenalan pun selesai. Kami lalui hari-hari di sekolah sewajarnya. Tapi seminggu kemudian ada yang aneh. Diam-diam Arya sering sms, telfon, atau bahkan mengajakku jalan. Aneh, darimana dia tahu nomer handphone ku? Ya sudah aku terima saja ajakannya. Ku lihat nada hp ku berbunyi, di layar tertera nama Arya yang mengirimkan sms untukku. Arya?
Eh cewek ice cream… keluar donk. Aku sekarang ada di depan rumah kamu. Cepetan keluar. What? Di depan rumah ku? Dari mana dia tahu alamat rumahku. Langsung saja aku keluar menemui Arya.
“kamu tau dari mana rumah aku?”
“itu gak penting, sekarang kamu ikut aku ya?”
“tapi kan aku belum ganti baju.”ucapku lagi. Dia tetap saja menarik tanganku. Membawaku ke suatu tempat. Kedai ice cream. Dari mana dia tahu aku suka ice cream?
“o iya kamu mau pesan ice cream rasa apa?” belum sempat ku jawab dia langsung memesan.
“rasa coklat kan?”
“ahh,,, eeh.. iaya iya aku suka rasa coklat.”jawabku bingung. Sambil menunggu pesanan datang dia mengajak ku mengobrol.
“oh iya… dari mana kamu tau nomer hp aku, alamat rumah aku, sampe… ice cream kesukaan aku?”tanyaku aneh.
“apa itu penting?”
“ya… gak papa juga si kalau kamu gak mau jawab.”ucapku lirih. Songong banget si nih anak. Belum sempat di jawab pesanan kami pun datang. Kami berbincang-bincang biasa, masalah hobi, silsilah keluarga, masa lalu. Ya… gi tu deh. Arya mengantarkan aku pulang ke rumah. Lambaian tangan menjadi perpisahan kami malam itu. Aku sempat tidak bisa tidur karna memikirkan yang baru saja terjadi malam ini. Terbesit dalam fikiranku untuk cerita dengan Rasya. Tapi, ini udah malam. Jadi kuputuskan besok saja aku cerita kalau malam ini aku jalan dengan Arya.
Esoknya aku cerita dengan Rasya, sontak ia pun kaget. Sempat ada perasaan iri dalam dirinya. Tapi itu tak ia pikirkan. Berhari-berhari, berbulan-bulan aku mengenal Arya. Sampai akhirnya ia menyatakan cintanya padaku. Aku tak bisa menolak, karena aku juga menyukainya sejak pandangan pertama. Apalagi dengan tingkah lakunya yang mirip sekali dengan Ryan. Huft.. dia jadi mengingatkanku pada sosok Ryan. Akhirnya kami pun jadian. Semua anak-anak di sekolah mengetahui kejadian itu, ya siapa lagi kalau bukan karna Rasya yang mulutnya ember.
Setelah beberapa bulan pacaran, keanehan mulai terjadi, sepertinya Arya semakin menghindar dariku. Aku mencoba mencari tahu. Aku berinisiatif mengikuti kemana ia pergi. Aku melihatnya sedang bersama sahabatnya. Berbicara di belakang halaman sekolah. Padahal kan ini masih jam pelajaran. Kenapa mereka malah mengobrol di luar kelas? Aku mendengarkan pembicaraan mereka.
“gimana? Gue udah buktiin kan ke elo kalau gue bisa dapetin si cewek ice cream itu. Awalnya si gue kira susah. Tapi ternyata semua itu gampang banget gue dapetin. Gue males tau taruhan sama lo. Apalagi harus ngerebutin tuh si cewek ice cream. Pikirannya cuma ice cream, ice cream, dan ice cream.”ujarnya membuat hatiku sakit.
Jadi selama ini, dia hanya menjadikanku bahan taruhan?
“yoi bro.. gue salut sama lo. Karna gue tau lo bisa menakhlukan hati cewek pakai cara apapun. Solanya selama ini, anak-anak cowok di sekolah ini tuh susah banget ngedapetin dia.”ucap sahabatnya itu lalu memberikan sebuah kunci mobil. Aku menangis dan berlari ke ruang kelas. Tak kusangka,  jadi kebaikannya selama ini hanya kebusukkannya. Cowok yang sudah mempermainkan hatiku. Rasya datang menemuiku.
“ya ampun Icha… lo kenapa? Sakit? Kok nangis sih? Ada apa? Ayo cerita sama gue. Kalau lo sakit, mendingan lo ijin ke UKS aja, dari pada lo ikut pelajaran dengan keadaan kayak gini”ucap Rasya yang khawatir melihat keadaanku.
“dia… dia jahat..”jawabku singkat dengan nada berbisik, takut guru yang mengajar mendengar obrolanku dengan Rasya.
“dia… dia siapa? Gue gak ngerti yang lo maksud. Sebenernya ada apa si cha? Siapa orang yang lo maksud itu?”tanyanya dengan nada tinggi. Tentu saja semua anak di kelas menengok ke arahku.
“ssttt… jangan keras-keras. Siapa lagi kalau bukan Arya? Lo tau gak, awalnya gue kira dia itu baik. Dia tulus suka sama gue. Pacarin gue. Tapi ternyata semua itu palsu. Dia cuma jadiin gue barang taruhan dia sama temennya itu. Gue gak nyangka. Awalnya juga gue kira di bener-bener mau ngedeketin gue karna dia tulus mau jadi temen gue, dia tahu nomer handphone gue, alamat rumah gue, sampe ice cream kesukaan gue.”jawabku panjang lebar.
“jadi… jadi dia sakitin lo? Di campakkin lo gitu aja?”Tanya Rasya yang seakan tak percaya apa yang sudah aku ceritakan.
“gue nyesel… gue nyesel tau gak. Awalnya gue kira dia bisa ngehilangin kenangan gue tentang Ryan. Tapi apa? Itu semua malah bikin gue jadi inget sama Ryan tau gak. Cuma dia satu-satunya cowok yang bikin gue bahagia.”curhatku.
ya, aku kangen banget sama kamu Ryan. Kenapa kamu tega ninggalin aku? Kenapa kamu lebih memutuskan pergi jauh dari aku. Tanpa pamit pula.
Tiba-tiba aku teringat kenangan-kenangan yang sudah aku rajut bersama Ryan. Makan ice cream di kala sinar matahari membakar kulit. Memelukku saat hujan turun. Menjagaku saat mama dan papa pergi tugas. Memberikanku rangkaian ice cream yang kau buat dengan susah payah. Tapi kenapa semua itu harus berakhir dengan perpisahan yang membuatku sakit Ryan. Apa yang sebenarnya terjadi hingga kamu memutuskan untuk pergi. Aku tersadar dari lamunanku saat Rasya menyadarkanku.
“ya udah lo sabar aja ya cha.. masih banyak kok cowok yang lebih baik dari dia.”Rasya benar.
Untuk apa aku menangisi hal yang tidak berguna. Hanya menghabiskan tenagaku saja. Saat jam pelajaran selesai, aku dan Rasya duduk di halaman belakang sekolah. Arya berjalan menghampiriku.
“o ea sayang… kita ke kantin yuk. Kita makan ice cream kesukaan kamu.”ajaknya. Sepertinya dia belum tahu kalau aku sudah mengetahui semua yang dia perbuat. Aku berfikir untuk mengerjainya. Aku mengajak Rasya sahabatku karna aku gak mau sendirian berbincang dengan cowok seperti dia. Saat sudah sampai di kedai ice cream milik Bu Siti kami memesan banyak ice cream. Seperti pesta ice cream saja saat-saat itu. Tapi Arya tidak tahu kalau aku memesan banyak ice cream untuk apa. Saat aku melihat Arya sedang menikmati ice cream itu, aku langsung saja bertindak. Ku hujani wajahnya dengan semua ice cream yang sudah ku pesan. Semua itu membuat anak-anak lain yang berlalu lalang di sekitarku menjadi heboh melihat apa yang sudah aku lakukan.
“ni… rasain tuh… ini buat lo karna lo dah permainin perasaan gue.”
ku tuangkan segelas ice cream rasa coklat.
“dan ini buat lo yang dah jadiin gue barang taruhan lo sama temen lo itu.”ku hujani wajahnya dengan ice cream yang ke dua. Betapa senangnya diriku tlah membuatnya malu.
“maksud lo apa pake gini segala? Gue gak ngerti. Kenapa lo tiba-tiba tumpahin ice cream lo di wajah gue. Eh, gue dah bayar mahal ya, buat semua ice cream lo yang lo pesen banyak. Mank belinya gak pake duit apa?”pekiknya pahit.
“ohh… jadi selama ini lo ajak gue jalan, lo traktir gue ice cream, ternyata lo itung-itungan sama cewek lo sendiri?, gak ihklas. Dasar matre lo… Cuma tampang aja keren. Tapi kantong lo seret. Kita putus,!!!! males gue pacaran sama cowok kaya lo”ku hujaninya juga dengan ejekan. Sontak semua orang yang ada di sekitar kantin pun tertawa dan mencibiri Arya. Aku mengajak Rasya pergi dari situ. Rasa puas terbesit di hatiku.
“gila lo keren banget… gue gak nyangka lo bisa seberani itu sama Arya. Lo emang sahabat gue paling Ok.”puji sahabatku itu. Beberapa hari kemudian, saat aku sedang mampir di kedai ice cream langgananku, aku melihat Rasya sedang berjalan mesra dengan seorang laki-laki. Mesra. Bergandengan tangan dengan manja. Oh god, arya? Rasya? Ngapain Rasya sama Arya? Aku mengikuti mereka dari belakang. Mereka duduk di bangku arah barat dari tempat dudukku. Aku menghampiri mereka.
“Rasya? Gue gak nyangka ya ternyata slama ini lo? Lo berkhianat?”tanyaku dengan nada tinggi.
“loh kenapa? Bukannya kita dah putus?”Tanya Arya dengan wajah brengseknya itu. Aku melihat wajah Rasya yang ketakutan.
“gue gak cemburu sama lo. Dan gue gak lagi ngomong sama lo.”
“cha… cha maafin gue… gue, gue gak bermaksud khianatin lo… tapi gue gak bisa nahan perasaan ini lagi cha… dari awal gue udah suka sama Arya. Tapi gue sadarin itu semenjak Arya mulai tertarik sama lo… gue kecewa. Kenapa selama ini cowok yang gue taksir tapi malah tertarik sama lo. Gue iri sama lo, kenapa lo bisa dapetin semua cowok yang lo suka dengan mudah, tapi gue? Gue sama sekali gak. Gue bantuin dia dapetin semua info tentang lo dari mulai nomer hp lo, alamat rumah lo, sampe kesukaan lo, karna gue sayang sama dia. Gue rela lakuin apapun asal dia bisa jatuh ke tangan gue. Dan gue gak perduli ternyata dia udah mempermainkan lo”jelas Rasya yang membuat hatiku menjerit.
“gue gak nyangka. Harusnya lo ngomong sama gue dari awal. Bukannya malah nusuk gue dari belakang. Persahabatan kita putus. Gue gak mau lagi punya sahabat kayak lo. Gue benci sama lo”aku berlari menghindar darinya. Meinggalkan sejuta pertanyaan yang belum keluar dari mulutku.
Matahari yang mulai tenggelam. Desir pasir dan ombak yang menggulung. Rambutku melambai-lambai mengikuti arah angin berhembus. Sinar matahari yang seakan mulai redup. Warna kuning cerah yang kini menjadi merahkeemasan seakan menghilang. Ku dengar seseorang memanggilku dari kejauhan. Suara itu mirip sekali dengan suara Ryan. Semakin jelas dan kian mendekat. Menepuk bahuku dan aku menoleh.
“Ryan…?” aku kaget melihat dirinya. Tlah lama tak bertemu membuatku canggung. Mengapa ia kembali setelah lama menghilang.
“hai ice cream hatiku… kamu apa kabar? Masih ingat kan sama aku.”senyum dan wajah cerianya tergambar saat sedang memandangku. Rupanya dia masih mengingat sebutan yang ia biasa ucapkan jika memanggilku. Ice Cream hatiku. Aku memeluknya erat-erat, apakah ini mimpi? Terbesit sejuta pertanyaan dalam fikiranku. Aku dan Ryan duduk melihat indahnya matahari yang kian menghilang di telan kegelapan. Tangannya menggenggam tanganku erat-erat. Tersenyum memandangi diriku.
“kenapa? Kenapa kamu pergi begitu lama dari hidup aku? Kenapa kamu ninggalin aku sendirian?”air mataku mengalir. Menghela napas sejenak.
“bukan tanpa alasan aku pergi. Tapi karena satu hal. Dan apakah kamu mau tahu?”tanyanya dengan perasaan sedih.
“apapun yang mau kamu bilang aku akan selalu dengerin.”
“aa… aaku aku sakit.” Kaget, diam, terharu, sakit, dan menyesal menggelayuti diriku. Apa yang di deritanya? Hingga ia harus pergi jauh dari diriku.
“sakit? Sakit apa? Rasa sakit apa yang kamu rasain hingga kamu putusin untuk pergi bertahun-tahun jauh dari aku?”
“apa kamu gak sayang sama aku? Kenapa kamu gak mau ngomong dari awal?”tanyaku lagi.
“kamu salah. Aku sayang banget sama kamu. Kamu belahan jiwa aku, kamu ice cream hati aku. Kamu segalanya buat aku. Aku takut kalau aku cerita sama kamu, kamu gak bisa menerima semuanya. Dan aku juga gak mau buat kamu cemas dan khawatirin aku.”jelasnya. air matanya meluncur dari pipinya. Ku usap air matanya yang telah membasahi pipinya. Lembut dan hangat.
“sakit hati aku.”ucapnya singkat. Diam. Aku terpaku. Bingung apa yang di maksudnya.
“hati kamu sakit.? Apa karna aku? Sebenarnya kenapa dengan hati kamu?”aku semakin penasaran.
“aku di diagnosa dokter terkena penyakit  kanker hati. Udah kronis. Akhirnya papa membawa aku ke rumah sakit di Australi buat cangkok hati. Kebetulan, disana ada orang yang donor hati. Aku juga gak tau siapa orang yang udah baik hati memberikan hatinya buat aku. Tapi untungnya semuanya berhasil. Dan aku menjalani beberapa perawatan yang melelahkan, hingga akhirnya aku bisa balik lagi ke sini, dan sekarang aku bisa melihat ice cream hatiku yang dulu pernah aku tinggalin begitu lama di hadapan aku.”jelasnya yang membuatku tak percaya. Tak kusangka slama ini, dia memiliki sebuah rahasia yang tak terbayangkan olehku.
“maafin aku ya, karena aku gak pernah kasih kabar ke kamu, karna aku gak mau kamu nantinya semakin menghindar dari aku.”
“kenapa? Kenapa aku harus menghindar? Apa yang perlu aku hindarin?”
“karna hati aku, hati aku bukan hati yang dulu ada buat kamu, menyimpan wajah kamu, memiliki perasaan untuk kamu, dan bukan hati seorang Ryan yang dulu.”tegasnya.
“aku gak peduli, aku gak peduli itu bukan hati kamu atau hati siapapun. Yang aku tahu dan aku mau, kamu tetap Ryan yang dulu,. Yang selalu ada buat aku. Ice cream hati aku.”aku memeluknya. Erat dan hangat. Menghangatkan aku dari dinginnya suasana pantai.
Ryan… sampai kapanpun tetaplah di hati aku. Jangan pernah pergi dari hidup aku.
Akan kusimpan hati kamu yang dulu di hati aku, dan kita jalani hidup ini dengan hati kamu yang berdetak. Ice cream hatiku, slalu untukku. Selamanya.



Carin Rianaditya Ajeng Putri
Kelas 8 SMP 2 Tegal
Tegal Jawa Tengah

Senin, 31 Oktober 2011

i heart u smash


I HEART YOU
KENAPA HATIKU CENAT CENUT TIAP ADA KAMU
SELALU PELUHKU MENETES TIAP DEKAT KAMU
KENAPA SALAH TINGKAH TIAP KAU TATAP AKU
SELALU DIRIKU MALU TIAP KAU PUJI AKU

KENAPA LIDAHKU KELU TIAP KAU PANGGIL AKU
SELALU MERINDU ROMAKU TIAP KAU SENTUH AKU
KENAPA OTAKKU BEKU TIAP MEMIKIRKANMU
SELALU TUBUHKU LUNGLAI TIAP KAU BISIKKAN CINTA

REFF:     YOU KNOW ME SO WELL
            GIRL I NEED YOU
            GIRL I LOVE YOU
            GIRL I HEART YOU
           
I KNOW YOU SO WELL
            GIRL I NEED YOU
            GIRL I LOVE YOU
            GIRL I HEART YOU

TAHUKAH KAMU SAAT KITA PERTAMA JUMPA
HATIKU BERKATA PADAMU ADA YANG BERBEDA
TAHUKAH SEJAK KITA SERING JALAN BERSAMA
TIAP JAM MENIT DETIKKU HANYA INGIN BERDUA

TAHUKAH KAMU_ KU TAKKAN PERNAH LUPA
SAAT KAU BILANG_PUNYA RASA YANG SAMA
KU TAK MENYANGKA AKU BAHAGIA INGIN KU PELUK DUNIA
KAU IZINKAN AKU TUK DAPAT RASAKAN CINTA
BACK TO REFF

REP: HATIKU RASAKAN CINTA
      DIA BUAT KU SALAH TINGKAH
      I KNOW YOU SO WELL
      YOU KNOW ME SO WELL
      YOU HEART ME GIRL
      I HEART YOU BACK
      I NEED YOU…
      GIRL I LOVE YOU

#    GIRL I NEED YOU
      I LOVE YOU
      I HEART YOU BEYBE {BEYBEEEEE….}
MUSIK
BACK TO #
BACK TO REFF

TAK ADA YANG BISA MEMISAHKAN CINTA
WAKTU PUN TAKKAN TEGA
KAU DAN AKU BERSAMA
SELAMANYA….