Sahabat kau belahan jiwaku…
Kau bagaikan anugrah yang telah Tuhan ciptakan untukku
Orang bilang tak ada orang yang paling indah selain ibu,
Tapi bagiku kau adalah segalanya.
Kau adalah keindahan dari setiap senyumanmu
Manakala hati ini menjerit jika kau pergi
Manakala cinta kasih sepasang sahabat tak mampu lagi berkobar
Kadangkala kau temani kesepian hati
Dan berpeluhkan air mata…
Andira, kamu sahabat terbaikku. Aku yakin kau yang terakhir. Hanya kamu yang bisa mengerti aku. Karena kamu sahabat terbaikku, maka aku akan selalu menyayangimu. Memberikan pundakku ini jika kau bersedih. Tangan ini akan mengusapkan air mata yang mengalir dari mata hatimu. Hati ini akan selalu ada jika kau merasakan kesepian. Aku dan kamu selalu bersama, apapun yang terjadi. Best friends forever.
Aku memberikan sepucuk surat berwarna pink kesukaannya. Aku berlari menghampirinya. Memeluk dirinya penuh kasih sayang.
“ini ku persembahkan untukmu Andira, sahabatku yang palingggggg aku sayang.”ujarku sambil memberikan sepucuk surat manis yang berisikan puisi yang sudah aku buat semalaman.
“ini untukku? Apa isinya? Terimakasih ya…” dia membuka sepucuk surat yang ku berikan khusus untuknya. Aku melihat rona bahagia dalam dirinya. Wajahnya langsung memerah. Kecerahan hati saat dia membaca puisiku itu. Dia langsung memelukku erat.
“terimakasih Disa sahabatku. Puisi ini indahhh sekali. Aku suka. Kamu memang sahabatku yang paling baik. Aku menyayangimu. Sampai kapanpun kau akan selalu ada di hatiku. Sahabatku jangan pernah pergi dari ku ya…” dia memelukku begitu kencang, dan tanpa terasa air mata sudah membasahi pundakku. Aku mengusap punggungnya. Mencoba menenangkan dirinya.
Aku bersahabat dengannya sejak aku masih kecil. Ayah ku dengan ayahnya adalah teman bisnis baik. Bekerjasama saling melindungi perusahaan yang sudah ayahku dan ayahnya bangun dengan susah payah. Itulah yang menyebabkan kami menjadi begitu dekat. Walaupun kepribadian kami yang sangat berbeda tapi kami mampu untuk menjaga sebuah tali persahabatan dan persaudaraan. Tapi itu bukan masalah buat kami menjalin suatu hubungan persahabatan yang sangat erat dan tidak dapat terpisahkan. Dari berbagai perbedaan yang kami milikki, kami juga mempunyai banyak sekali kesamaan.
Dia dan aku sama-sama suka makan ice cream, suka nonton HARRY POTTER, mengidolakan bintang-bintang korea, suka shopping, chatting, dan yang tak kalah menarik suka kentut sembarangan. Itulah yang menjadi salah satu keeratan hubungan persahabatan kami.
Tapi disekolah kami bersaing sebagai pelajar. Bersaing secara sehat tentunya. Andira merupakan bintang di sekolah. Ia terkenal dengan kepandaiannya, kelembutannya, dan bentuk demokrasinya yang kini membuatnya terpilih menjadi ketua OSIS. Selain itu, dia juga anak yang mudah bergaul, laki-laki disekolah banyak yang menginginkannya menjadi kekasih hatinya. Namun sayang, Andira lebih memilih untuk focus pada sekolahnya. Ya… itulah yang aku suka darinya. Berfikir dewasa.
Berbeda denganku. Aku anaknya agak tomboy, sedangkan Andira sangat feminine dan anggun. Basket adalah olahraga yang paling aku sukai. Makan banyak tentu saja tetap membuat tubuhku tinggi dan langsing. Tapi aneh, walaupun aku agak tomboy. Sebenarnya kalau aku di dandani dan pergi ke salon sesering mungkin, tentu saja aku tak kalah cantik dengan sahabatku. Aku pernah merayakan ulang tahun yang ke tujuh belas dengan memakai gaun berwarna pink yang di dandani oleh Andira. Aku sampai terpukau melihat wajahku sendiri. Face? Ok. Rambut? Ok. Panjang, lurus dengan ikal di ujung. Mata? Ok juga. Hehehe narsis juga ya aku ini…
“Andira… kamu mau tidak menemaniku pergi ke caffe denganku sepulang sekolah nanti?”ucapku saat melihat Andira sedang asyik membaca buku di perpustakaan. Aku tak yakin kalau dia mau menerima ajakanku. Secara gitu ya, kalau udah pegang buku sedikit dia pasti tidak mau untuk menutup dan menyudahi bacaannya. Huft. Padahal kan, ini perayaan kemenangan tim basketku. sayang sekali jika dia tidak bisa hadir.
“maaf Disa aku tidak bisa. Aku sedang sibuk hari ini. Aku harus mengerjakan tugas OSIS yang sudah harus ku selesaikan. Apalagi besok sudah harus di berikan ke kepala sekolah. Kamu gak papa kan kalau pergi sendiri? Sebenarnya aku ingin ikut, tapi…. Mau bagaimana lagi?” kasihan sahabatku itu, semenjak jadi ketua OSIS dia menjadi jarang bertemu denganku, jarang banget lahhh kumpul di rumah. Nonton film HARRY POTTER bareng…. Aku rindu sekali dengannya. Tapi aku juga harus mengerti posisinya. Sebagai sahabat itu mungkin hal yang terbaik.
“ehhmmm…. Ya sudah tidak apa. Aku mengerti, kau pasti sibuk sekali. Tapi tenang sahabatku, kau harus tetap kuat. Jangan nyerah ya…. Hehehe…”aku menyemangati dirinya agar ia tak begitu terbebani dengan semua tugas itu.
“kamu nanti pulang sekolah bareng sama aku kan?”tanyaku saat sedang melihat ia sibuk mencari bahan-bahan tugas OSIS nya.
“sepertinya aku tidak bisa. Aku sudah janji dengan anak-anak OSIS lainnya untuk mencari bahan-bahan tugas di perpustakaan daerah dan mungkin kami semua akan terjun ke lapangan langsung.”jelasnya. dia hebat, mencari tugas saja sampai harus cari ke tempat kejadian juga. Udah kaya pemburu berita saja.
“ya udah gak apa. Aku pergi kekantin dulu ya. Laper nih… kamu mau titip gak?”tanyaku mencoba menawarinya sesuatu. Tapi dia menolak. Ya sudah. Aku lekas berlari kekantin yang tak jauh dari ruang perpustakaan.
Siangnya saat aku sedang nongkrong di caffe sama temen-temen basket.
Bercanda ria bersama, tertawa. Kadang juga serius mempersiapkan strategi jitu untuk lomba basket di tingkat internasional nanti. Aku adalah kapten basketnya. Tim basketku sudah banyak sekali mendapatkan kejuaraan. Dari mulai piala POPDA, walikota, nasional, antar sekolah, sampai ke tingkat Internasional. Tak salahkan jika aku layak mendapatkan troppy penghargaan sebagai kapten basket terbaik. Dari mulai medali perak, emas, perunggu. Wuihhh banyak juga ya…
Saat sedang asyik mengobrol, aku melihat ada seorang laki-laki yang sepertinya aku kenal. Dia adalah teman kecil aku dan Andira saat kami masih SD. Dia adalah Erland. Jadi teringat saat SD aku dan Andira bersaing demi mendapatkannya. Pantas bukan, dari kecil cakeppppp banget. Tinggi, hitam manis. Ada lesung pipinya, baik, ramah pula. Jadi kami bertiga bagai tiga serangkai yang sangat di kagumi teman-teman sekelas kami.
“Erland…”aku berteriak memanggilnya. Dia menoleh ke arahku. Berjalan menghampiriku. Gila…. Gak masih kecil, udah gede makin cakep aja. Tapi sekarang makin putih.
“haiii… Disa. Kamu apa kabar?”tanyanya.
“baik, baik. Kamu sendiri gimana? Kemana aja slama ini? Kok jarang keliatan. Udah gitu pake ganti nomer handphone gak bilang-bilang aku sama Andira lagi.”tanyaku saat menanyakan kemana saja ia slama ini.
“maaf. Aku ganti nomer. Soalnya, selama ini aku tinggal di Belanda. Sibuk sama tugas sekolah. Jadi gak sempet kasih kabar. Oh iya… Andira mana? Gak ikut ngumpul?”tanyanya. mungkin ia rindu pada Andira. Cinta monyetnya pada saat kami masih kecil. Ya, cintaku bertepuk sebelah tangan dengannya. Karena Erland lebih menyukai Andira ketimbang aku.
“ohh itu, biasa dia sibuk sama tugas sekolahnya. Jadi gak bisa ikutan. Oh iya… kamu di sini lagi ngapain? Baru pulang ya?” aku mengalihkan pembicaraannya tentang Andira yang membuat hatiku terbakar api cemburu yang lama tak kurasa lagi.
“iya… kebetulan ayahku udah selesai ngurusin bisnisnya di sana. Jadi kami memutuskan untuk pulang ke sini. Ternyata sekolah di negeri orang gak enak. Aku rasa lebih enak di negeri sendiri.”jelasnya. aku kagum dengannya, dia juga tak kalah pintar dengan Andira. Duhhh… kenapa sih aku malah menyamakannya dengan Andira? Perbincangan kami tak hanya sampai di situ. Dia memintaku untuk dipertemukan dengan Andira. Apa boleh buat. Andira juga perlu tahu akan hal ini.
Saat sampai di rumah Andira. Andira begitu antusias melihat kedatangan Erland, cinta lamanya. Mereka berpelukan di depanku. Tentu saja membuatku bagai kebakaran jenggot. Tapi tak apalah, toh mereka juga sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Selain itu juga mereka pasti saling rindu. Kami mengobrol seputar masalah-masalah kami, apa saja yang kami lakukan slama ini. Penuh tawa dan keceriaan. Sampai larut malam memisahkan.
Esoknya aku dan Andira sudah sampai di gerbang sekolah. Kami berpapasan di sana.. Saat memasuki gerbang sekolah, aku melihat Erland keluar dari mobilnya. Berjalan ke arah kami.
“hai semua…. Selamat pagi.” Sapanya.
“haiii…pagi. Kamu masuk sekolah ini?”tanyaku setelah menjawab sapaannya.
“iya… kalian pasti kaget. Kalian juga pasti seneng kan aku bisa satu sekolah sama kalian,? secara aku ini kan orang yang selalu bikin jantung kalian berdegup kencang.”ujarnya sambil menunjukkan rasa PDnya itu. Dari dulu dia itu anaknya suka ke PDan sendiri, juga narsisnya gak pernah di ilangin.
“ehhmmm… ia-ia percaya. Ya udah masuk yuk, keburu bel nih.”ajak Andira.
Saat jam istirahat aku melihat Erland sedang mendekati Andira berjalan menuju ruang kepala sekolah.
“haiii… kamu mau kemana?”Tanya Erland penuh perhatian.
“erland… kamu ini bikin kaget aja tau gak. Aku mau keruang kepala sekolah. Nih, mau ngumpulin tugas OSIS aku.”jelas Andira sambil berlalu masuk keruang kepala sekolah. Ku lihat Erland begitu lama menunggu Andira yang sedang ada urusan dengan pak kepsek. Aku langsung saja menghampirinya. Pura-pura tidak tahu apa yang dilakukannya.
“haiii… ngapain kamu disini? Kaya orang aneh tau gak. Berdiri di depan pintu sendirian. Nungguin siapa?” aku menepuk bahunya, mengagetkannya.
“ah kamu ini. Bikin aku kaget tau gak. Udah sport jantung nih, kalau patah gimana. Dasar.”jawabnya sambil menjitak kepalaku.
“auuu… sakit tau. Kenapa sih kamu selalu jitak kepala aku? Bisa bego tau gak.”pekik ku merasa kesakitan sambil mengelus-elus kepalaku.
“ya salahmu sendiri, makannya jangan suka ngagetin orang. Aku lagi nungguin Andira ngasih tugas OSISnya ke kepala sekolah. Kamu sendiri ngapain disini? Ohhh atau jangan-jangan kamu ngikutin aku sama Andira ya?”tanyanya sambil menunjuk-nukjukkan jarinya kearah mukaku penuh selidik.
“ehh PD banget sih kamu…. Siapa juga yang ngikutin kamu. Aku tadi kebetulan aja lewat.”jawabku bohong sambil mencari-cari ide. Ternyata dia bisa tau juga. Saat kami sedang ribut sendiri di luar ruangan, Andira keluar.
“ehhh… kalian ngapain sih ribut sendiri di sini.? Dari dalem tuh kedengeran tau. Aku ampe di marahin sama pak kepsek.”ujar Andira memarahi aku dan Erland. Erland tetap saja terus-terusan memarahiku. Aku tak terima. Aku menantangnya duel basket di lapangan. Dia menerima tawaranku. Sebenarnya aku tak yakin dengan keputusanku sendiri. Soalnya, walaupun aku jago main basket, jadi kapten basket sampe dapet troppy penghargaan sebagai kapten basket terbaik, aku pernah di kalahkannya sewaktu masih kecil dulu. Berulang kali malah. Tapi aku yakin kali ini, aku bisa mengalahkannya. Citraku sebagai kapten basket terbaik tak boleh begitu saja tercemar karena di kalahkan oleh si curut yang satu ini.
Pertandinganpun di mulai. Penonton menyorakiku sambil memberi semangat untukku. Namun sebagian malah mendukung Erland. Ya tentu saja, pasti karna tampangnya itu. Skor kami kejar-kejaran. Dan akhirnya…. Tentu saja aku yang menang. Hahaha… aku bersyukur setelah sekian lama ia sering mengalahkanku, bisa juga aku mengalahkannya. Membalaskan dendam yang belum sempat terbalaskan. Makan di caffe menjadi perayaan kemenanganku. Di caffe kami biasa berkumpul.
“iya-iya…. aku percaya kemampuan kamu lebih hebat dari aku sekarang. Karna kamu menang, kamu bebas pesen makanan apa aja sepuasnya. Aku yang bayar.”ujarnya memulai pembicaraan. wahhh… makan banyak…. Ahai…. Udah keroncongan perutku sedari tadi menunggu pesanan datang.
Gila… tau gak? Aku tuh udah kayak kambing congek, kudu ngeliatin mereka saling pandang lah, bertukar pikiran lah, tebar-tebar senyum. Sok manis, ngobrol berdua mulu.
Selesai makan, kami pun berpisah. Pulang sendiri-sendiri. Karna rumah kami yang cukup berjauhan dan beda arah pula.
Kami melalui hari dengan indah. Nongkrong-nongkrong, belajar bareng, main basket. Pokonya seru deh. Sebelum akhirnya, masalah datang pada kami terjadi.
“ehmmm… sa, aku mau kasih tau kamu sesuatu. Tapi… tapi kamu jangan marah sama aku ya.”ucapnya memulai pembicaraan saat kami sedang duduk di perpustakaan. Tentu saja Andira baca buku, sedangkan aku chattingan. Kulihat gaya bicaranya yang seolah ketakutan.
“emangnya kamu mau kasih tau apa? Udah ngomong aja. Kenapa musti marah sih sahabatku…”jawabku yang masih terpaku pada layar monitor.
“a… aaaku diajak jalan sama Erland.”ceritanya. dengan nada suara yang lirih, mungkin takut jika aku marah, tentu saja!
“apa? Jalan? Kalian? Berdua? Gak salah? Aku? Gak diajak? Berarti… kalian kencan?.” Aku terkesibak mendengar penjelasannya. Terkejut, marah, kesal, dan tentu saja cemburu. Seakan menggelayuti perasanku. Aku menatap tajam matanya dengan sorotan mataku yang seakan menusuk. Tak terima! Tapi luluh. Teringat dia adalah sahabatku. Aku rela, dan mengijinkannya meski hatiku harus menahan sakit. Ku lihat ia hanya mengangguk-angguk dan tak ada jawaban sedikitpun keluar dari bibir mungilnya. Aku beranjak pergi dari hadapannya. Mencoba menenangkan diri. Mencari suasana yang bisa menghibur hatiku. Di taman belakang sekolah. Menangis, teringat akan Andira sahabatku itu. Tak kuasa aku menyakitinya. Tak kuasa untuk menghancurkan perasaannya. Perasaan seorang sahabat, bisa aku mengerti seperti apa. Aku mengerti ia juga mempunyai perasaan yang sama dengan Erland. Tetapi itu juga yang terjadi dengan perasaanku. Perasaan yang apakah mungkin bisa terungkap. Perasaan yang dulu pernah bertepuk sebelah tangan.
“Andira… andaikan saja kamu tahu. Sejujurnya dalam hati aku terasa sakit. Sakitttt sekali. Bagaikan tertusuk beribu-ribu jarum. Menyayat. Menggores. Tapi aku juga tidak ingin kau merasakan seperti apa yang aku rasakan saat ini. Detik ini. Karena aku terlalu menyayangimu. Aku tak ingin menyakiti hatimu. Aku tak ingin kau mengetahui yang sejujurnya. Bahwa aku juga memiliki perasaan itu. Aku sangat menyayangi Erland, bahkan sejak kami pertama bertemu saat kecil. Tapi aku juga tahu, dia lebih tertarik denganmu. Aku rela… asalkan kau bahagia Andira.” Pikirku dalam hati yang kutulis pada diary yang selalu setia bila ku tulis semua isi hatiku. Diary pemberian dari Andira. Hingga akhirnya aku tersentak dengan seseorang yang sangat membuatku terkejut. Erland. Apakah dia? Aku menoleh. Benar itu dia, mata itu. Kini ia duduk di sampingku. Ku seka air mata ini agar ia tak tahu apa yang sudah terjadi. Tapi, tetap saja. Ia selalu mengerti apa yang aku sembunyikan.
“kamu nangis? Kenapa? Siapa yang buat kamu jadi seperti ini?”tanyanya penuh perhatian. Apakah harus aku jujur? Tidak! Aku tak ingin dia dan Andira tau. Aku tak ingin membuat mereka begitu memikirkanku.
“ah… enggak. Siapa juga yang nangis? Cengeng banget… ini tuh air mata aku karna kelamaan duduk di sini. Malah udaranya lagi gak enak. Anginnya kenceng banget debunya jadi masuk mata deh.”maafkan aku Erland, karna aku berbohong. aku hanya tak ingin terlihat begitu lemah di matamu. Aku ingin seperti Andira, yang selalu kuat dan tegar. Selalu bisa dan banyak cara untuk menyembunyikan kesedihannya.
“ohhh… eh tau gak aku baru beli CD HARRY POTTER. Kalau ada waktu kita bertiga nonton bareng yuk, di rumah kamu. Nih kamu simpan yahh”ujarnya sambil menyodorkan CD HARRY POTTER kesukaanku dengan Andira.
“ia… boleh-boleh aja kok.” Aku tersenyum dengannya. Mungkin ini adalah hariku bersamanya dan hanya berdua yang menjadi terakhir kalinya. Setelah ia memutuskan untuk menyatakan cintanya pada Andira. Sungguh, aku tak akan menyia-nyiakan hari itu.
Malam dimana Andira dan Erland berkencan. Terbayang dalam fikiranku seperti apa konsep yang sudah di buat oleh Erland untuk Andira. Karna aku tahu, dari dulu Erland suka sekali membuat kejutan. Kejutan terindah yang pernah di berikannya untukku dulu sebelum kami berpisah yang tanpa aku tahu. Kalung liontin yang didalamnya tertempel fotoku dengan fotonya. Kalung liontin berbentuk hati yang sampai sekarang masih tetap saja terikat kuat di leherku. Yang ku jaga sampai masa SMA ini.
Di rumah aku tidak bisa focus dengan buku pelajaran yang terbentang lebar di depanku. Aku begitu memikirkan Andira dan Erland. Sedang apa meraka? Apa yang mereka buat? Pasti sangat romantic. Terlintas di benakku raut muka Andira yang penuh rona bahagia. Akhirnya kuputuskan untuk menyusul meraka. Di restaurant yang mereka pesan. Aku tahu tempat itu saat sebelum Andira pergi memberitahuku lewat pesan singkatnya.
Bergegas sampai di sana. Aku melihat mereka berdua bergenggaman tangan. Saling bertatapan. Terpajang besar dan tinggi sekali gambar hati yang di kelilingi bunga-bunga yang didalamnya tertuliskan nama mereka berdua.
Kudengar kata-kata yang langsung membuatku terkejut. Dadaku ini terasa sesak. Sulit untuk bernafas.
“Andira… kamu tahu kan dari kecil aku udah tertarik sama kamu. Dulu kita sempet pacaran. Walaupun hanya pacar boongan, cinta monyet. Cintanya anak yang baru sebiji jagung. Tapi kini perasaan itu berbeda. Kini perasaan itu sungguh-sungguh, bukan permainan, bukan juga cinta anak kecil. Aku sangat mencintaimu. Aku harap kamu mau menerima cintaku ini.”ujarnya memberikan kata-kata romantic lalu mengecup telapak tangan kanan Andira.
“aku juga cinta sama kamu. Tapi bagaimana dengan Disa?”ujarnya.
Apa? Aku? Kenapa Andira begitu memikirkan perasaanku?
“memangnya kenapa dengannya?” Erland terlihat bingung dengan Andira yang melibatkan aku dalam makan malam romantic mereka.
“aku takut Disa tau. Aku sangat mengerti perasaanya. Semenjak kamu pergi begitu lama, aku dan dia sangat kehilangan kamu. Tapi yang begitu terpukul Disa. Disa sangat mencintai kamu. Aku tak bisa bayangkan, apa jadinya kalau Disa tau kita berdua saling mencintai. Aku tak ingin membuat hatinya kecewa. Karna dia harus rela cintanya bertepuk sebelah tangan untuk yang kedua kalinya. Aku gak bisa Erland. Biarkan saja perasaan ini aku yang menyimpan. Aku tak ingin persahabatan aku dengan Disa putus dan hancur begitu saja hanya karna seorang lelaki. Aku tahu dia pasti akan sangat terpukul. Tapi aku harap kamu bisa ngerti apa yang menjadi keputusan aku. kalau kamu emang mencintai aku, maka relakan aku Erland.”jelasnya yang tentu saja membuat Erland menjadi lemah. Andira meneteskan air mata.
“tapi… tapi aku sayang sama kamu. Dari dulu aku gak punya perasaan apa-apa sama Disa. Aku Cuma sayang sama kamu. Aku hanya menganggapnya sebagai adikku. Itu saja. Gak lebih, dan gak akan bisa lebih.”Erland telah memutuskan untuk tetap memantapkan hatinya pada Andira.
“tapi cinta tak harus memiliki Erland.”Andira berlari meninggalkan Erland begitu saja. Dan menabrakku.
“Disa?”tanyanya yang kaget melihatku. Aku tetap saja berlari. Air mataku sudah tak tertahankan. Aku berlari di atas jalanan besar. Tanpa kusadar ada sebuah mobil menbrakku. Dan… gubrak. Aku terpental. Erland dan Andira berlari menyelamatkanku. Aku mendengar Andira yang terus-terusan memanggil namaku. Ku lihat air matanya yang menetes ke pipiku. Samar-samar terdengar suara sirine ambulance yang melaju kencang. Di rumah sakit.Suara alat rumah sakit yang berdenyit. Selang-selang yang terus dililitkan oleh dokter ke hidungku. Ku merasakan kepala yang begitu sakit. Kurasakan sekujur tubuhku basah. Darah. Dorongan kasur yang memasuki ruang ICU. Sampai akhirnya dokter berkali-kali memberiku alat pemacu jantung. Tetap saja aku tak bisa dan aku tak mampu lagi. Terdengar suara denyit panjang. Ngingggggggg.. garis lurus berwarna hijau. Sebelum akhirnya untuk terakhir kalinya ku lihat wajah Andira yang menangis tanpa henti, Erland yang memeluk tubuh Andira mencoba untuk menenangkannya. Mamah dan papah.
Kosong. Kulihat tubuhku terbaring di sana. Andira yang terus saja tidak bisa merelakan kepergianku. Apakah itu artinya? Aku sudah mati. Wajahku tertutup kain putih.
Sebuah peristirahatan terakhir yang dingin dan gelap. Nisan bertuliskan namaku yang berkali-kali Andira kecup. Mereka beranjak dari tempat peristirahatan terakhirku. Namun tidak untuk Andira. Aku ingin memeluknya. Tapi aku tidak bisa.
Mamah memberikan diary yang dulu pernah diberikan oleh Andira untukku. Andira membacanya di kamar tidurku. Lembaran pertama sampai lembaran berikutnya sambil sesekali menyeka air matanya.
Andira… kau sahabatku… dia pilihan hatiku.
Sakitttttt sekali, begitu mendengar semua pernyataan darimu.
Maafkan aku, karna aku hanya selembar kertas yang tersobek karna luka
Aku sangat menyayanginya. Tapi aku tahu dia hanya untukmu. Makanya ku relakan dia untukmu. Untuk apa tetap ku pertahankan rasa yang tak ada artinya, rasa yang tak terbalaskan.
Semoga pengorbananku ini membuatmu bahagia. Jangan penah melupakan aku, sahabatmu
Selamanya…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar